Jadi anak sulung itu no doubt tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan bhawa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi pantuan adik-adiknya. Kerap juga kita dengan anak sulung membantu orang tua kerja. Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu ibu di sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. para adik jadi insiyur dan si sulung tetap menjadi petani.Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita sendiri. Maisng-masing dari kita kalo gak punya kakak sulung, ya jadi anak sulung itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar. Harus berbagi banyak hal dengan si kecil karena orang tua berpikir tidak perlu beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda.Tapi ada satu hal yang gua lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa pembentukan karakter si sulung oleh orang tua. no doubt bahwa semua orang tua ingin mendidik anaknya dengan benar. Gua belum pernah nemu orang tua yang niat ngedidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar, bermental baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang yang sukses dan ada yang tidak? kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah ada yang menyusahkan orang tua?Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar menjadi orang yang baik bagi masyarakat. then there must be something wrong here.

Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik sabar, bermental tauladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan pemimpin yang terkenal, tidak semua sulung? deretan manusia-manusia luar biasa sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu ada anak tengah, malah ada yang anak tunggal. Kenapa gak semua pemimpin di dunia ini anak sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi tauladan dari kecil? Cerita 3 Anak Sulung
Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika gua lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas pantai di medan beserta 3 orang engineer lainnya. kita sebut saja mereka Pak AA, Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet persis. Kita berbagi pekrangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak kawin. Di tahap ini mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga. keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan ikat pinggang. yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. gua pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA bungsu hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung. Diancemnya macem-macem. gua pernah main di halaman belakang dan mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. CC sulung jadi mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia kelojotan sendiri. gua pernah tanya ke nyokap kenapa CC sulung seperti itu. ternyata karena stres. umur kita d bawah 10 tahun by the way, waktu itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat dia sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih perhatian. Dia jarang marah. malah gua gak pernah melihat dia marah, setidaknya ketika gua main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu gak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka.
10 tahun kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu kalo ada acara kantor bokap. tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. makin kita besar, kita makin lepas kontak.
25 tahun kemudian
Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya ke resepsi. gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. dan ini yang gua dapatkan:
Anak-anak AA
AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor.
AA sulung mengidap narkoba.

Anak-anak BB
BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena dia jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya.
BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan berprestasi. setalh 25 tahun ini, kealinan syarafnya masih ada. Anak-anak CC
CC bungsu sekolah di amrik.
CC tengah memilih kerja di San Diego.
CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia.
Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup? Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan:
– Si sulung anak yang mantep, mandiri.
– Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.
Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial gua, ada aja yang bilang
“Lu bungsu sih dit”
“Lu bungsu ya Dit?”
“Dasar bungsu! Gini aja capek.”
Jawabannya adalah:
1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya.
Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si bapak, si bungsu dengan cepat belajar “Oh, nabrakin mobil gak boleh.”
Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do better apa nggak.2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung.
Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua. Ketika mereka menemukan sulungmelakukan kesalahan, 40% kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung mecahin kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak adil. padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah.

 Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak. Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5 tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang menyiratkan kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- “produk gagal”Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di saat AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari ajaran ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di il rig dan pulang-pulang di sabuk.3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa.
Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri ya, gak tau di dunia psikologi ada apa nggak. yang jelas sarajana psikologi lebih tahu deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman dulu. contoh kasus,
Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah mati. Ada yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi giliran si bungsu pacaran dengan usi yang relatif lebih cepat, orang tua nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai beradaptasi dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan di mana si bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung pacaran di usia 18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14 karena melihat asyiknya si kakak.

There you have it, susahnya jadi orang tua.

Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang. Kalo gak pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Disetiap saat orang tua harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. dan sadar tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya.

Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu karena bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up fine. Kakak gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang gua bilang sangta mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar muridnya bisa menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now.

Tapi memang ada yang gua pelajari bokap yang gua belajar untuk nggak. Yaitu kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga.

Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari oil rig dan kakak gua nanya ke nyokap
“Mah, itu siapa?”

gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. yang jelas, gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki ke kantor. Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. gua pernah baca di intisari bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan banyak waktu dengan bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas rata-rata.

Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir. gua pengen make sure, he has enough attention a child can get from both parents.

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang harus lebih dalam dari yang kita kira. gua cuman bersyukur gua punya masa kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar gua bisa terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil ini.

jam 3 pagil, Sleeping beauty dulu ye bo. Pic from here