November 2010


 

Sudah beberapa tahun saya vacuum (baca:vakum) dari ngeband alias main musik. Kini band kami tidak ada kabar berita selanjutnya, apa dan bagaimana kelanjutannya, hal itu dikarenakan masing-masing dari personil telah berkeluarga atau sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing (sok sibuk MODE:ON). Untuk itu saya ulas sedikit tentang band saya agar suatu saat dapat dikenang anak cucu kami :mrgreen:, selain itu juga agar para pembaca tau bahwa kami pernah exist di bumi ini :-D.

 

Malaikat, itu nama band kami dulu. Pasti banyak sekali yang bertanya kenapa dinamakan Malaikat? (sok terkenal MODE:ON). Sebenarnya nama Malaikat tidak kami permanenkan dengan sengaja. Begini awal mula ceritanya, nama Malaikat itu sering dilafalkan nenek saya ketika memanggil saya dulu sewaktu kecil, saya juga kurang mengerti dengan jelas apa sebabnya, beliau hanya mengatakan bahwa saya ini terlalu lugu. “Lugu?” :mrgreen: “lugu” sebenarnya kurang tepat ditujukan pada saya, mengingat saya ini bukan makhluk lugu yang seperti pembaca bayangkan :-D.  Back to topic, awal mula, suatu ketika (sekitar tahun 2003-2004, lupa :mrgreen: ) saya bersama teman-teman  mau pergi ngeband (main musik) di studio, bukan studio milik kami pribadi melainkan studio yang disewakan. Setiap kali kami memesan studio melalu telepon, kami selalu kebingungan ketika si pemilik studio menanyakan “pemesanan studio atas nama siapa?”, karena setiap minggunya kami selalu berganti-ganti nama, hal itu juga dikarenakan kami tidak memiliki nama band. Lupa saya sampaikan bahwa semula kami ngeband tidak bertujuan seperti orang ngeband pada umumnya, kami dulu ngeband hanya bertujuan untuk penyegaran, mengisi waktu luang, menghilangkan kejenuhan atas rutinitas sehari-hari. Kembali ke jalan yang lurus :-D, suatu ketika kami kembali ditanyakan oleh si pemilik studio “pemesanan studio atas nama siapa?”, saya bingung harus menjawab apa, entah kenapa tiba-tiba saya saya teringat kata “Malaikat”, spontan  saya katakan kepada teman-teman atas nama Malaikat dan segera saja kami pesan atas nama Malaikat. Sejak saat itu hingga minggu berikutnya ketika memesan studio, selalu nama itu yang kami gunakan.

 

(lebih…)

Entah kenapa dalam tahun-tahun ini saya suka meneliti tetang cara kerja pikiran manusia, khususnya pikiran bawah sadar. Menyimpang, memang menyimpang dari studi yang sedang saya jalani saat ini yaitu Ilmu Komputer, namun meneliti tentang pikiran manusia memiliki ketertarikan tersendiri disamping terus belajar tentang pikiran/otak komputer :mrgreen: . Dari beberapa peristiwa yang terjadi sehari-hari, saya terus menyimak bagaimana cara kerja pikiran kita, dan yang saya peroleh kali ini adalah bahwa pikiran bawah sadar kita tidak menerima kalimat negasi sepeti “tidak”, “jangan”, “dilarang”, dsb. Saya akan menerangkan bagaimana saya dapat memperoleh kesimpulan seperti itu, namun sebelum itu saya akan menerangkan tentang pikiran manusia terlebih dahulu.

Dari beberapa sumber yang telah saya baca, pikiran manusia terbagi menjadi dua, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar merupakan fungsi yang memungkinkan seseorang melakukan suatu kebiasaan dibawah kesadaran orang tersebut seperti halnya berkendara roda dua, pikiran bawah sadar membuat kita mampu berkendara tanpa harus memikirkan bagaimana prosedur menjalankan kendaraan, tanpa sadar saat ingin mempercepat kendaraan tangan kita memutar gas, begitu juga saat ingin melambatkan kendaraan atau berhenti tanpa disadari kaki kita akan menginjak pedal rem, bahkan memindah transmisi, semua itu terjadi tanpa disadari oleh pengendara tersebut bahkan pengendara dapat melakukannya sambil berbincang bersama teman boncengannya bukan? Pikiran bawah sadar ini memiliki persentase 88%, sehingga banyak pekerjaan yang mampu dilakukannya. Sedangkan pikiran sadar merupakan fungsi yang membantu seseorang melakukan sesuatu dengan kesadaran penuh seperti halnya orang yang pertama kali berkendara roda dua, saat belajar berkendara si pengendara akan terkonsentrasi penuh pada prosedur berkendara, ia akan akan terkonsentrasi apabila ingin mengatur kecepatan ada pada tuas gas, apabila ingin berhenti ia akan memikirkan penuh agar kakinya menginjak pedal rem, bahkan orang yang belajar berkendara cenderung akan menghitung transmisi yang digunakannya, bukankah begitu? Pikiran sadar ini memiliki persentase 12%, hanya sebagian kecil dibandingkan pikiran bawah sadar. 

(lebih…)